Chat Box


Nama

URL atau Email

Pesan


Login User






Saya lupa passwordnya?
Belum punya Username & Password? Daftar Baru!

Statistik

Anggota: 32
Berita: 638
WebLinks: 13
Beranda ::.

KABAR NASIONAL 

YUDHOYONO SEBUT LIMA KRITERIA CALON WAPRES

JAKARTA, KOMPAS — Ketua Dewan Pembina Partai 'Demo­krat Susilo Bambang Yudhoyono, yang mencalonkan diri sebagai presiden kembali, menyebutkan lima kriteria calon wakil presiden yang akan mendampinginya da­lam Pemilu Presiden 2009. Lima kriteria itu dirumuskan setelah mendengarkan masukan rakyat.
Lima kriteria itu adalah me­miliki integritas, kepribadian, ka­rakter moral, termasuk moral politik yang baik., memiliki kapa­sitas dan kapabilitas sebagai pembantu presiden sesuai dengan UUD 1945; memiliki loya­litas yang penuh kepada peme­rintah dan bebas dari konflik kepentingan; memiliki aksepta­bilitas dalam arti diterima dan lekat di hati rakyat; serta dapat meningkatkan kekokohan dan efektivitas koalisi yang dibangun.
"Sampai sekarang, saya belum menemukan," ujar Yudhoyono di di Puri Cikeas Indah, Gunung Putri,Bogor, Jawa Barat, Minggu(19/4). Dalam jumpa pers, is di­tunggui Ny.Ani Yudhoyono dan Sudi Silalahi.
Yudhoyono menjelaskan, Partai Demokrat membentuk Tim Sembilan yang dipimpin Ketua Umum Hadi Utomo untuk men­cari calon wapres sesuai dengan kriteria itu. Sudan banyak partai politik yang diajak bicara tentang kebersamaan dan koalisi di pe­merintahan dan parlemen pada periode 2009-2014. "Tim Sem­bilan wajib berkomunikasi dan lapor kepada saya," ujarnya.
Selain Tim Sembilan, Yudho­yono juga menjalin komunikasi dengan tokoh lain secara pribadi. Pekan lalu Yudhoyono bertemu dengan pendiri Partai Amanat .Nasional (PAN), Amien Rais, di Wisma Negara, Jakarta. Yudhoyono berbicara tentang tekoalisi PAN dan, Partai Demokrat meski belum rinci dalam bentuk calon presiden dan wapres. Partai De­mokrat dan PAN ingin mem­bentuk pemerintahan yang kokoh dan efektif.

Baca Selengkapnya...............  

KABAR INTERNASIONAL

PANGERAN DEMOKRASI

SIMPUL DEMOKRASI BANYUASIN - Amerika Serikat selama ini selalu mengkliem dirinya sebagai pembela demokrasi di garda paling depan. Dialah “Pangeran Demokrasi” yang memiliki impian menyebarkan demokrasi ke segala penjuru dunia. Invasi militer ke Irak pun dikemas dalam paket untuk menyebarkan demokrasi.
Mengutip pendapat Robert Dahl, seorang pakar politik, demokrasi mewakili semua kebajikan kehidupan politik yang baik, termasuk kebebasan, kesetaraan, dan keadilan.

Dalam rumusan Abraham Lincoln, demokrasi menghargai martabat manusia. Martabat manusia timbul dari suatu sumber yang lebih dalam, kodrat manusia. Manusia memiliki martabat sebagai pribadi: ia bukan hanya sesuatu, melainkan seseorang. Ia mampu mengenal diri sendiri, menjadi tuan atas dirinya, mengabdikan diri dalam kebebasan, dan hidup dalam kebersamaan dengan orang lain.

Semua itu selam ini menjadi keyakinan AS dan disebarkan ke segala penjuru dunia. Karenaitu, pertanyaannya adalah apakah pemilihan presiden di AS yang hari Selasa (4/11) ini-dengan kandidat Barack Obama yang berkkulit hitam dari Partai Demokrasi dan John McCain dari Partai Republik yang berkulit putih-akan membuktikan semua itu?

Masyarakat dunia menuntut bukti bahwa AS benar-benar menjujung tinggi nilai-nilai dan melaksnakan prinsip-prinsip demokrasi yang selama ini diyakininya.

Pendek kata, apakah di AS benar-benar dipraktikkan prinsip di depan demokrasi tidak ada lelaki atau perempuan; tidak ada kulit putih atau kulit hitam atau coklat; yang ada adalah warga negara yang sama hak-hak politiknya, hak-hak sipilnya, yang sama di muka hukum, yang sama hak dan kewajibannya sebagai warga negara.

Obama, memang, maju dengan mengusung gagasan baru dalam hidup berdemokrasi. Ia meminta rakyat untuk menyandingkan kepercayaan dengan demokrasi pluralistic modern. Katanya, demokrasi menuntut orang-orang termotivasi untuk menerjemahkan ajaranagama ke nilai-nilai universal, bukan sekadar menerjemahkan nilai-nilai khusus keagamaan.

Baca Selengkapnya............

Kilas Demokrasi

DEMOKRASI LOKAL, PILKADA SERENTAK DI SUMSEL -

Propinsi Sumatera Selatan pada tahun mendatang akan menggelar Pilkada di delapan kabupaten dan kota, dan pemilihan Gubernur Sumatera Selatan. Daerah yang akan melakukan Pilkada tersebut adalah kota Lubuk Linggau (Febuari), kota Pagaralam (Maret), kota Prabumulih (Mei), Kabupaten Muara Enim (Juni), kota Palembang (Juli), kabupaten Banyuasin (Agustus), Propinsi Sumatera Selatan (Nopember), dan kabupaten Lahat (Desember). Pilkada kabupaten OKI yang semestinya Januari 2009, kemudkinanan dimajukan pada tahun 2008 karena pada tahun 2009 bertepatapan dengan Pemilu yang tidak diperkenankan adanya kegiatan Pilkada.  Sedangkan kabupaten Lintang Empat Lawang yang baru berpisah dari Kabupaten Lahat ini juga belum melakukan Pilkada.




ISU PUTRA DAERAH: “MEMBUNUH” DEMOKRASI -

Isu putra daerah yang dilontarkan pengacara Alamsyah Hanafiah, SH, menyongsong Pilkada di Kabupaten Banyuasin pada tahun 2008 mendatang mendapat kecaman keras dari tokoh pemuda Banyuasin.  Pernyataan pengacara ibukota tersebut dinilai kalangan pemuda Banyuasin sebagai bentuk “pembunuhan” terhadap demokrasi.
Menurut Darul Kutni, SE, di dalam negara demokratis siapapun orangnya darimana pun asal daerahnya senantiasa memiliki hak untuk dicalonkan dan dipilih rakyat. Karena itu, isu putra derah itu dapat membunuh demokrasi yang sedang dikembang-kan di negara Indonesdia ini, termasuk di kabupaten Banyuasin.
Hal senada dikemukakan pula Haidir Rohimin. Menurut mantan Sekretaris KNPI Banyuasin ini, setiap warga negara Indonesia berhak untuk mencalonkan diri dalam Pilkada mendatang. “Pernyataan yang dilontarkan Alamsyah Hanafiah itu sangat melukai demokrasi yang dijamin oleh UUD 45 yang diamandemen.
Kedua tokoh pemuda Banyuasin tersebut, Darul Kutni dan Haidir Rohimin,  sepen-dapat bahwa pernyataan Hanafiah yang mengatakan bahwa pembangunan di Kabu-paten belum terlihat, sungguh penrnyataan “asbun”. Sebab, cukup membanggakan masyarakat Banyuasin dengan berdirinya gedung perkantoran yang luas. (Lina).



DPRD: PERAMPOK DEMOKRASI -

Anggota DPRD merupakan kumpulan “perampok demokrasi”. Sebab, wakil rakyat ini sangat pandai menggunakan demokrasi untuk menekan pemerintah agar menaik-kan penghasilan mereka. Tekanan para “perampok demokrasi” ini membuah-kan hasil dengan terbitnya PP 37 Tahun 2006 Tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota DPRD.

Demikian diungkapkan Hadi Jatmiko, Koordinator Aksi Koalisi Gerakan Rakyat Palembang, saat berorasi di depan Hotel Aston, tempat berlangsungnya mukernas ADEKSI se-Indonesia, 26 Januari 2007.

Menurut Mahasiswa Universitas Muhammadyah Palembang itu, para “perampok demokrasi” telah menggunakan argumen hukum untuk tidak mengem-balikan uang rapel yang telah mereka terima, sebelum PP 37/ 2006 itu menuai kritrik dari rakyat Indonesia di berbagai daerah.

Lebih lanjut dikatakan Hadi Jatmiko bahwa wakil rakyat itu  tidak hanya merampok demokrasi, juga telah merampok uang rakyat yang dilegalkan melalui peraturan pemerintah (Ratna).

 



PP 37/2006: MELEGALKAN KORUPSI -

PP 37/2006 adalah  hasil dari perselingkuhan elit politik tingkat tinggi yang melegal-kan praktek korupsi. Karena itu, peraturan pemerintah yang  ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu sangat tidak populir dan melukai hati rakyat Indonesia.

Demikian disampaikan Rina Bakrie, Direktur Eksekutif yayasan PUSPA Indonesia, dalam orasinya di hadapan ratusan peserta aksi  menolak PP 37/2006 di gedung  DPRD Propinsi Sumatera Selatan, 22 januari 2007.

Menurut Rina Bakrie,  PP 37/2006 itu sangat pantas ditolak karena dapat menying- kirkan pelayanan publik yang sebetulnya harus diperjuangkan oleh wakil rakyat.  “ Selain itu, peraturan tersebut  memberikan legitimasi bagi wakil rakyat untuk menguras uang rakyat melalui APBD, “ tegasnya.

Hal senada dikemukakan pula oleh Marsidah, wakil dari masyarakat miskin kota, di dalam orasinya yang mengecam wakil rakyat yang telah merampas uang rakyat dengan menggunakan alasan-alasan hukum, “anggota DPRD Sumsel tidak memiliki akan sehat dan nurani!” ujarnya (Yuyun)



FRAKSI GOLKAR DI DPRD BANYUASIN: DARI “ADU-MULUT” NYARIS “ADU-JOTOS” -

FRAKSI GOLKAR DI DPRD BANYUASIN:

DARI “ADU-MULUT” NYARIS “ADU-JOTOS”

Pangkalan Balai, (SIMPUL DEMOKRASI BANYUASIN) – Dua oknum fraksi Partai Golongan Karya di DPRD Banyuasin, LA, SH dan IS, SH, yang semula “adu-mulut” nyaris menjadi “adu-jotos” Untunglah beberapa anggota dewan yang menyaksikan peristiwa itu segera melerai pertikaian antara dua wakil rakyat tersebut.

Insiden tersebut merupakan bukti bahwa nilai-nilai demokrasi belum menjadi cara berpikir dan cara bertindak bagi politisi di tingkat lokal.  Pertikaian itu dapat dicegah karena beberapa anggota dewan masih berada di Gedung Graha Sedulang Setudung, sehingga “adu-mulut” antara dua oknom dari Fraksi Golkar Banyuasin itu tak berkembang menjadi “adu-jotos” sebagaimana pernah terjadi “saling-pukul” antar anggota  DPRD Banyuasin beberapa waktu lalu.

Ketua BK DPRD Banyuasin yang juga anggota Fraksi Golkar, Hasan HM, membenarkan peristiwa yang nyaris mengarah pada tindak kekerasan fisik tersebut. “Itu hanya kesalahpahaman,” ujarnya. “Keduanya masih muda sehingga gejolak emosi yang kadang tak terbendung,” tambah Hassan.

Pangkal keributan dua anggota Fraksi Golkar tersebut diduga bermula dari adanya rolling anggota komisi dari Fraksi Golkar di DPRD Banyuasin. Kebijakan rolling itu telah menyebabkan munculnya ketidakpuasan di antara oknum fraksi Golkar yang nyaris berkembang dari “adu-mulut” menjadi “adu-jotos”. ( Tim SBD).

 
Sumber diolah dari harian Palembang Pos, 27 September 2007

 



DANA PONPES BANYUASIN DIKORUPSI OKNUM DEPAG -

DANA PONPES BANYUASIN DIKORUPSI OKNUM DEPAG

Bupati Banyuasin Berang

Pangkalan Balai (SIMPUL DEMOKRASI BANYUASIN) - Dana bantuan Rp 5 juta per bulan untuk Pondok Pesantren Banyuasin ”disunat” oleh oknum Departemen Agama. Tindakan yang korup itu membuat berang Bupati Banyuasin, H. Ir. Amiruddin Inoed.
Menurut Bupati Banyuasin, pihaknya akan menindak tegas terhadap oknum Depag Banyuasin yang memotong dana bantuan Rp 5 Juta untuk setiap Pondok Pesanren di Banyuasin yang jumlahnya 45 buah.
Lebih lanjut dikatakan bupati, tindakan oknum Depag itu sangat memalukan pemerintah kabupaten Banyuasin. ”Saya akan menindak tegas, baik sanksi pegawai maupun sanksi lainnya. Paling tidak uang tersebut harus dikembalikan. Sebab, uang bantuan pondok pesantren itu tidak boleh dipotong,” tukas Amiruddin Inoed.

Sementara itu, M. Soleh Naim, Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat dan Peranan Perempuan Kabupaten Banyuasin, menjelaskan bahwa selama ini tidak pernah terjadi pemotongan dana bantuan untuk pondok pesantren. Bahkan, pihak pemerintah kabupaten telah menyediakan materai, setelah ditandatangani pihak pondok pesantren uang bantuan segera diberikan.Lebih lanjut dikatakan, pemerintah kabupaten Banyuasin telah menganggarkan dana bantuan sebesar Rp 5 juta per bulan untuk setiap pondok pesanteren merupakan realisasi dari anggaran 2007.  Dari 45 pondok pesanteren  yang berhak menerima dana bantuan tersebut, kata Soleh Naim, baru 33 ponpes yang menerima bantuani. Sedangkan ponpes yang belum menerima dana bantuan itu akan dimasukkan ke dalam Anggaran Biaya Tambahan (ABT).
Kasus korupsi dana bantuan pondok pesantren itu menarik perhatian anggota DPRD Banyuasin. Menurut Sekretaris IV DPRD Banyuasin, Nurmala Dewi, pihaknya akan memanggil dinas yang terkait dengan penyunatan dana yang dilakukan oknum Depag. ”Jika terbukti, kita akan memberikan rekomendari kepada bupati untuk menindak tegas oknum depag tersebut,” tandas Nurmala. 

Sumber diolah dari Harian Seputar Indonesia, 20 September 2007


PELAKSANAAN OUT CLASS SEKOLAH DEMOKRASI BANYUASIN
Ditulis oleh Tim Sekolah Demokrasi   

KEGIATAN DI LUAR KELAS SEKOLAH DEMOKRASI BANYUASIN

Pelaksanaan kegiatan pembelajaran di luar kelas (Out Class) Sekolah Demokrasi Banyuasin (SDB) meliputi; (1) Teknik Menulis Artikel di Media Massa, (2) Mass Media Meeting, (3) Talk Show di Radio, (4) Talk Show di Televisi, (5) Diskusi Kampung (Vllage Discussion), (6) Temu Pemimpin Komunitas (Leader Community Meeting), (7) Dialog Publik, dan (8) Kunjungan Lapangan (Fieldtrip). Kegiatan pembelajaran di luar kelas ini bertujuan agar peserta SDB dapat memahami permasalahan-permasalahan rakyat, juga diharapkan mereka mampu memecahkan dan memberi solusi terhadap permasalahan yang dihadapi rakyat, disamping mengasah kepekaan peserta SDB. Pelaksanaan kegiatan pembelajaran di luar kelas .......

 

Baca Selengkapnya.....  

 
PELAKSANAAN IN CLASS SEKOLAH DEMOKRASI BANYUASIN
Ditulis oleh Team Simpul Demokrasi Banyuasin   

Program Sekolah Demokrasi Banyuasin, yang dikelola Yayasan PUSPA Indonesia bekerjasama dengan Komunitas Indonesia untuk Demokrasi (KID), kini sedang memasuki tahap implementasi program (pelaksanaan). Sebelum kegiatan pendidikan demokrasi berlangsung, Koordinator Program Sekolah Demokrasi, Tarech Rasyid, telah merancang berbagai kegiatan, seperti Briefing, Kontrak Belajar, dan Outbound Training Sekolah Demokrasi, kemudian disusul dengan kegiatan Pelatihan Modul dan Metode Pembelajaran Sekolah Demokrasi yang diikuti fasilitator Sekolah Demokrasi. Kemudian dialnjutkan dengan kegiatan Launching Sekolah Demokrasi dan Ceramah Umum yang mengambil tema Demokrasi dan Kemiskinan oleh Dr Ignas Kleden, dan dilanjutkan dengan kegiatan  pembelajaran Sekolah Demokrasi yang perdana di Hotel Le Paradise, Jalan Kapten A. Rivai Palembang. Kegiatan Sekolah Demokrasi diikuti sekitar 35 peserta didik yang berasal dari “empat pilar demokrasi” seperti politisi, lembaga politik, pelaku bisnis, dan masyarakat sipil.   

 

Baca Selengkapnya................

 
Copyright © 2007 Simpul Demokrasi Banyuasin.
email : info@simpuldemokrasibanyuasin.or.id
Kerjasama antara Yayasan PUSPA INDONESIA dengan Komunitas Indonesia untuk Demokrasi