BERITA INTERNASIONAL PANGERAN DEMOKRASIAmerika Serikat selama ini selalu mengkliem dirinya sebagai pembela demokrasi di garda paling depan. Dialah “Pangeran Demokrasi” yang memiliki impian menyebarkan demokrasi ke segala penjuru dunia. Invasi militer ke Irak pun dikemas dalam paket untuk menyebarkan demokrasi. Mengutip pendapat Robert Dahl, seorang pakar politik, demokrasi mewakili semua kebajikan kehidupan politik yang baik, termasuk kebebasan, kesetaraan, dan keadilan. Dalam rumusan Abraham Lincoln, demokrasi menghargai martabat manusia. Martabat manusia timbul dari suatu sumber yang lebih dalam, kodrat manusia. Manusia memiliki martabat sebagai pribadi: ia bukan hanya sesuatu, melainkan seseorang. Ia mampu mengenal diri sendiri, menjadi tuan atas dirinya, mengabdikan diri dalam kebebasan, dan hidup dalam kebersamaan dengan orang lain. Semua itu selam ini menjadi keyakinan AS dan disebarkan ke segala penjuru dunia. Karenaitu, pertanyaannya adalah apakah pemilihan presiden di AS yang hari Selasa (4/11) ini-dengan kandidat Barack Obama yang berkkulit hitam dari Partai Demokrasi dan John McCain dari Partai Republik yang berkulit putih-akan membuktikan semua itu? Masyarakat dunia menuntut bukti bahwa AS benar-benar menjujung tinggi nilai-nilai dan melaksnakan prinsip-prinsip demokrasi yang selama ini diyakininya. Pendek kata, apakah di AS benar-benar dipraktikkan prinsip di depan demokrasi tidak ada lelaki atau perempuan; tidak ada kulit putih atau kulit hitam atau coklat; yang ada adalah warga negara yang sama hak-hak politiknya, hak-hak sipilnya, yang sama di muka hukum, yang sama hak dan kewajibannya sebagai warga negara. Obama, memang, maju dengan mengusung gagasan baru dalam hidup berdemokrasi. Ia meminta rakyat untuk menyandingkan kepercayaan dengan demokrasi pluralistic modern. Katanya, demokrasi menuntut orang-orang termotivasi untuk menerjemahkan ajaranagama ke nilai-nilai universal, bukan sekadar menerjemahkan nilai-nilai khusus keagamaan. Politik moral bersemangat multikulturalisme yang ditawarkan Obama menjadi semacam mantra semangat di tengah iklim dan suasana politik yang kaku dan mengandalkan kakuatan fisik yang dikembangkan Presiden George W Bush. Demokrasi memang memberikan tempat bagi kekuasaan kaum mayoritas. Akan tetapi, kekuaasaan tersebut tidak boleh digunakan secara mutlak dan memberangus hak-hak kalangan minoritas. Karena itu, dalam masyarakat yang pluralistic secara primordial, toleransi merupakan masalah yang sulit diwujudkan. Karena itu, konflik terbuka dan sering kali berdarah , sering terjadi di antara mereka (Saiful Mujani, Muslim Demokrasi). Bagaimana dengan di Indonesia? Padahal, mengutip pendapatnya Robert Dahl, salah satu aspek penting dalam budaya politik begi stabilitas demokrasi adalah toleransi politik.. Karena itu sikap saling percaya abtarsesama warga negara adalah salah satu sisi dari sebuah mata uang. Sisi lainnya adalah sikap percaya terhadap institusi politik. Bila antarwarga tercipta saling percaya, institusi politik pun akan semakin kuat. Dan, hal itu pada gilirannya akan memberikan sumbangan bagi stabilitas demokrasi. Kita tidak maragukan kuatnya institusi politik di AS. Kini yang diuji adalah kuatnya saling percaya antarwarga. Apakah warga kulit putih akan percaya pada warga kulit hitam dan memilihnya menjadi presiden? Kalau hal itu menjadi kenyataan, kiranya tidak akan keberatan masyarakat dunia akan menyambut AS sebagai “Pangeran Demokrasi”. Dan pada gilirannya, kita pun berharap hal yang sama akan menular ke banyak negara di dunia ini, termasuk Indonesia, di mana tercipta sikap saling percaya, toleransi, dan kebersamaan di antara seluruh warga bangsa. Sebab, demokrasi membutuhkan dukungan kolektif anggota masyarakat. Bila para gilirannya, kita pun berharap hal yang sama akan menular ke banyak negara di dunia ini, termasuk Indonesia, di mana tercipta sikap saling percaya, toleransi, dan kebersamaan, masyarakat pun akan mengikutinya. Karena itu, apa yang terrjadi di As sana kiranya bisa menjadi contoh yang baik tentang bagaimana caranya membangun sebuah bangsa yang satu. Apalagi bila Obama terpilih. (IAS) Sumber Berita : Kompas, Selasa, 4 November 2008
|