Yayasan PUPSA Indonesia (Pusat Studi Pemberdayaan Perempuan dan Anak Indonesia mempunyai program kerja sebagai berikut :
1. Pemberdayaan
Progam kerja pemberdaaan Yayasan PUSPA Indonesia terdiri dari dua, yaitu pemberdayaan terhadap perempuan dan pemberdayaan terhadap anak. Pemberdayan ini dilakukan oleh dua devisi (devisi perempuan dan devisi anak). Pemberdayaan yang pernah dilakukan adalah pemberdayaan anak jalanan melalui pendekatan rumah singgah, dan pemberdayaan orangtua anak jalanan dengan menggunakan startegi dana bergulir melalui lembaga Balai Ponjen Rakyat (BPR). Juga mengembangkan kegiatan seni dan budaya, khususnya Rebana perempuan miskin kota. Sedangkan pemberdayaan anak jalanan dilakukan dengan memberikan beasiswa (ProgamJPS dan APBN), di samping memberikan pendidikan keterampilan berupa belajar mengemudi mobil, sablon, salon, komputer, membuat souvenir, kerajinan tangan,menjahit dan lain-lain.Ada juga pemberdayaan yang dilakukan dengan strategi pemahaman mengenai Penyakit Menular Sosial (PMS) melalui permainan “Ular Tangga KHA” , dan mengasah kemampuan mereka untuk melakukan SWOT melalui “permainan monopoli”. Disamping itu, juga melakukan pemberdayaan melalui permainan drama dan pengajian.
Untuk membangun solidaritas antar anak-anak maka berdiri organisasi anak yang bernama “Forum Anak Sumatera Selatan” (Formass) yang dibentuk oleh anak-anak secara demokratis pada kongres I di Bumi perkemahan Cadika Sumsel. Kemudian dilanjutkan melakukan Kongres Anak ke-II di Mess Pertiwi Palembang. Kongres Anak ke-II ini mengutus wakil anak untuk mengikuti kongres Anak di tingkat Nasional,kemudian salah satu anak dampingan Yayasan Puspa Indonesia terpilih mewakili anak Indonesia dalam Forum Anak Internasional di PBB, NewYork.
2. Advokasi
Yayasan PUSPA Indonesia melakukan advokasi hak perempuan, hak anak dan lingkungan. Advokasi terhadap perempuan dan anak dilakukan dengan cara kampanye dalam bentuk menyebarkan leaflet, juga melakukan unjuk rasa dengan mengusung hak perempuan dan hak anak, seperti menuntut segera disahkan RUU Perlindungan Anak ke DPRD Sumsel, unjuk rasa dan menunut anggota DPRD ke pengadilan karena mengambil dana anak yatim yang dikucurkan melalui Yayasan Kesejahteraan DPRD Sumsel senilai miliaran rupiah. Selain itu, menggalang NGO Sumsel yang peduli perempuan untuk memperjuangkan draft Perda Perlindungan Hak-Hak Perempuan Juga terlibat dalam Gerakan Rakyat Palembang dalam memprotes “manipulasi” dana operasional DPRD Sumsel senilai 7,5 miliar.
Disamping itu, setiap tahun senantiasa mengeluarkan laporan atas kekerasan terhadap perempuan dan anak di daerah Sumsel. Laporan tahunan mengenai kekerasan yang menimpa kaum perempuan dan anak ini merupakan bentuk advokasi hak kaum perempuan dan hak anak yang dilanggar. Pelanggaran terhadap hak perempuan dan hak anak ini merupakan cermin kurang tersosialisasinya instrumen-instrumen hukum baik nasional maupun internasional yang melindungi hak perempuan dan hak anak.
3. Penelitian
Yayasan PUSPA Indonesia selain melakukan pendataan mengenai kekerasan terhadap kaum perempuan dan anak, juga melakukan penelitian mengenai kekerasan. Penelitian yang pernah dilakukan Yayasan PUSPA Indonesia adalah “Perlindungan Perempuan Terhadap Kekerasan Seksual Dalam Naskah Simboer Tjahaya”.
4. Penerbitan
Selain menerbitkan bulattin REWANG, juga pernah menerbitkan buku :“Perlindungan Perempuan Terhadap Kekerasan Seksual di Dalam Naskah Simboer Tjahaya”, pada tahun 2002. Selain itu, menerbitkan pula bahan-bahan pelatihan internal dalam bentuk buku, seperti: (1)’’Pendampingan Kaum Marjinal”, tahun 2002; dan (2)“Hak Asasi Manusia dan Ideologi Gender”, tahun 2002. Juga menerbitkan beberapa buku panduan untuk pendamping, misalnya; (1) Manajemen Rumah Singgah, (2) Instrumen Nasional dan Internasional : Hak Asasi Anak: (3) Balai Ponjen Rakyat: (4) Pendampingan Anak Jalanan: (5) Pendampingan Orangtua Anak Jalanan.
Disamping itu, Yayasan PUSPA Indonesia membuat modul-modul untuk anak jalanan, di antaranya; (1) Modul membaca, menulis dan berhitung (calistung) untuk anak jalanan; (2) Modul pedidikan KHA; (3) Modul Kesehatan Anak Jalanan (4) Modul keterampilan (5) Modul Bermain Teater (6) Modul menggambar (7) Modul menari (8) dan modul permainan Ular Tangga KHA, Panah PMS, SWOT Anak Jalanan, dan Karambol Filsafat. Pada tahun 2003,i menerbitkan pula secara sederhana rekaman kegiatan Yayasan PUSPA Indonesia yang dibuat Media Massa, diantaranya; (1) ”Menghalau Diskriminasi Perempuan” dan “Anak Jalanan Palembang inginkan Menteri Urusan Anak”. Pada saat memperingati hari kemerdekaan 2005, Yayasan PUSPA Indonesia menggelar diskusi dengan tema “Neoliberasme dan Kemerdekaan”, disusul dengan menyelenggarakan lokakarya bekerjasama dengan WALHI Sumsel dengan tema “ Globalisasi, Lingkungan hidup dan Perempuan”.